Selasa, 27 Maret 2012

Malaria



Malaria (berasal dari bahasa Italia : mala = buruk, aria = udara) adalah penyakit infeksi dengan demam berkala yang dsebabkan oleh parasit  Plasmodium dan ditularkan oleh sejenis nyamuk tertentu (Anopheles). Berbeda dengan nyamuk biasa (Culex), nyamuk ini khususnya menyerang pada malam hari dengan posisi yang khas, yakni bagian belakangnya mengarah ke atas dengan sudut 48o.
Setiap tahun 70 juta orang dihinggapi penyakit malaria dengan mortalitas 1%. Penyakit ini terutama terdapat di negara-negara yang beriklim panas dan lembab, yang letaknya lebih rendah dari 2.200 m di atas permukaan laut; tempat ini merupakan tempat ideal untuk berkembang biaknya nyamuk Anopheles. Menurut laporan tahun 2006 sekitar 2 juta anak-anak di Afrika meninggal dalam satu tahun akibat terserang malaria.
Di Indonesia, malaria merupakan salah satu penyakit epidemis penting. Di tahun 2004 wabah malaria menimbulkan ± 2000 kasus dan 33 kematian, terutama di propinsi Jawa Barat, Kalimantan Selatan, dan Aceh Barat.
Dengan meningkatnya hubungan transportasi melalui udara, benih penyakit malaria juga dapat diimpor melalui nyamuk terinfeksi, sehingga disebut ‘malaria bandar udara”.
Bagi manusia, malaria disebabkan oleh 4 species protozoa keturunan plasmodium yang menimbulkan 3 jenis malaria yaitu malaria tropika, tersiana dan kwartana. Diperkirakan penyakit ini berasal dari penyakit malaria hewan di afrika tengah yang kemudian tersebar ke seluruh dunia.
a.       Malaria tropika
Plasmodium falcifarum adalah penyebab jenis malaria yang paling ganas dan berbahaya dengan mortalitas terbesar. Bila tidak diobati penyakit ini dapat menyebabkan kematian hanya dalam beberapa hari akibat adanya relative banyak eritrosit rusak yang menyumbat kapiler otak. Terutama pada anak-anak timbul koma dan kematian hanya dalam beberapa jam. Gejalanya adalah berkurangnya kesadaran dan serangan demam yang tidak menentu, adakalanya terus menerus, dapat pula berkala tiga hari sehari.
b.      Malaria tersiana
Disebabkan oleh Plasmodium vivax atau ovale. Cirri-cirinya demam berkala tiga hari sekali dengan pucak setelah setiap 48 jam. Gejala lainnya berupa nyeri kepala dan punggung, mual pembesaran limpa dan malaise umum. Tidak bersifat mematikan, meskipun tanpa pengobatan. Sering kali kambuh kembali berhubung adanya bentuk EE (Ekso Eritrositer) - sekunder.
c.       Malaria kwartana
Pada penyakit ini Plasmodium malariae mengakibatkan demam berkala 4 hari sekali, dengan puncak demam setiap 72 jam. Gejalanya sama dengan tertian. Residif juga sering terjadi karena bentuk EE-sekunder.


Diagnosis malaria dapat dibuat dengan menemukan parasit trofozoit muda (bentuk cincin) tanpa atau dengan stadium gametosit dalam sediaan darah tepi. Pada autopsy dapat ditemukan pigmen dan parasit dalam kapiler otak dan alat-alat dalam.
Malaria adalah penyakit yang dapat bersifat cepat maupun lama prosesnya, malaria disebabkan oleh parasit malaria / Protozoa genus Plasmodium bentuk aseksual yang masuk kedalam tubuh manusia ditularkan oleh nyamuk malaria (Anopheles) betina, ditandai dengan deman, muka nampak pucat dan pembesaran organ tubuh manusia. Parasit malaria yang terbanyak di Indonesia adalah Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax atau campuran keduanya, sedangkan Plasmodium ovale dan malariae pernah ditemukan di Sulawesi, Irian Jaya dan negara Timor Leste. Proses penyebarannya adalah dimulai nyamuk malaria yang mengandung parasit malaria, menggigit manusia sampai pecahnya sizon darah atau timbulnya gejala demam. Proses penyebaran ini akan berbeda dari setiap jenis parasit malaria yaitu antara 9 - 40 hari ( WHO 1997 ).
Siklus parasit malaria adalah setelah nyamuk Anopheles yang mengandung parasit malaria menggigit manusia, maka keluar sporozoit dari kelenjar ludah nyamuk masuk ke dalam darah dan jaringan hati. Parasit malaria pada siklus hidupnya, membentuk stadium skizon jaringan dalam sel hati (ekso-eritrositer). Setelah sel hati pecah akan keluar merozoit / kriptozoit yang masuk ke eritrosit membentuk stadium sizon dalam eritrosit (stadium eritrositer), mulai bentuk tropozoit muda sampai skizon tua / matang sehingga eritrosit pecah dan keluar merosoit. Merosoit sebagian besar masuk kembali ke eritrosit dan sebagian kecil membentuk gametosit jantan dan betina yang siap untuk diisap oleh nyamuk malaria betina dan melanjutkan siklus hidup di tubuh nyamuk (stadium sporogoni). Pada lambung nyamuk terjadi perkawinan antara sel gamet jantan (mikro gamet) dan sel gamet betina (makro gamet) yang disebut zigot. Zigot akan berubah menjadi ookinet, kemudian masuk ke dinding lambung nyamuk berubah menjadi ookista. Setelah ookista matang kemudian pecah, maka keluar sporozoit dan masuk ke kelenjar liur nyamuk yang siap untuk ditularkan ke dalam tubuh manusia.
Khusus P. vivax dan P. ovale pada siklus parasitnya di jaringan hati (skizon jaringan), sebagian parasit yang berada dalam sel hati tidak melanjutkan siklusnya ke sel eritrosit tetapi tertanam di jaringan hati disebut Hipnosoit, bentuk hipnosoit inilah yang menyebabkan malaria relapse. Pada penderita yang mengandung hipnosoit, apabila suatu saat dalam keadaan daya tahan tubuh menurun misalnya akibat terlalu lelah/ sibuk/ stres atau perobahan iklim (musim hujan), maka hipnosoit akan terangsang untuk melanjutkan siklus parasit dari dalam sel hati ke eritrosit. Setelah eritrosit yang berparasit pecah akan timbul gejala penyakitnya kembali. Misalnya 1 - 2 tahun yang sebelumnya pernah menderita P. vivax/ ovale dan sembuh setelah diobati, suatu saat dia pindah ke daerah bebas malaria dan tidak ada nyamuk malaria, dia mengalami kelelahan/ stres, maka gejala malaria muncul kembali dan bila diperiksa SD-nya akan positif P. vivax/ ovale.


        Pada P. falciparum dapat menyerang ke organ tubuh dan menimbulkan kerusakan seperti pada otak,  ginjal, paru, hati dan jantung, yang mengakibatkan terjadinya malaria berat/komplikasi, sedangkan P. vivax, P. ovale dan P. malariae tidak merusak organ tersebut. P. falciparum dalam jaringan yang mengandung parasit tua di dalam otak, peristiwa ini yang disebut sekuestrasi. Pada penderita malaria berat, sering tidak ditemukan plasmodium dalam darah tepi karena telah mengalami sekuestrasi. Meskipun angka kematian malaria serebral mencapai 20 - 50 %, hampir semua penderita yang tertolong tidak menunjukkan gejala sisa neurologis (sekuele) pada orang dewasa. Malaria pada anak sebagian kecil dapat terjadi sekuele. Pada daerah hiperendemis atau immunitas tinggi apabila dilakukan pemeriksaan SD sering dijumpai SD positif tanpa gejala klinis pada lebih dari 60 % jumlah penduduk.


<a href="http://www.blogpingtool.com">Ping Blog</a>

0 komentar:

Poskan Komentar